Misteri Masjid Jin yang dipercaya warga

Misteri Masjid Jin yang dipercaya warga

Baca Juga


Bangunan masjid berornamen Timur Tengah dengan warna dominan biru dan putih itu memang berada di tengah-tengah pemukiman yang padat. Jarak dari jalan raya menuju lokasi, sekitar satu kilometer. Namun karena bentuk bangunannya menjulang tinggi, orang bisa langsung melihatnya dari jalan raya.

Masjid itu disebut-sebut sebagai Masjid Tiban yang konon pembangunannya dipercaya dibantu dengan pengerahan jin. Lokasi masjid ini di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen,Malang, Jawa Timur. 

Masjid tersebut kini juga kerap dikunjungi masyarakat yang penasaran dengan masjid tersebut. Oleh sebab itu sepanjang jalan menuju lokasi kini dipenuhi para pedagang dari masyarakat sekitar masjid. Sementara kendaraan besar harus parkir di pingir jalan raya.

Berikut ini beberapa keanehan Masjid Tiban di Turen, Malang, yang dipercaya masyarakat sekitar:
1. Dibangun Jin
Masjid sekaligus Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri'asali Fadlaailir Rahmah dipercaya dibangun oleh ribuan pasukan jin. Masjid itu dipercaya 'tiba-tiba' muncul di tengah pemukiman yang padat penduduk. Konon masyarakat sekitar juga tidak pernah mengetahui aktivitas pembangunannya.

Karena itu, Masyarakat sekitar kemudian menyebut sebagai Masjid Tiban, artinya masjid yang muncul secara ajaib, tiba-tiba dan bernuansa kegaiban. Bahkan diyakini dibangun dalam waktu satu malam.

Lokasi masjid tepatnya di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06 Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang, sekitar 40 kilometer dari Kota Malang.

Cerita dari mulut ke mulut semakin menguatkan kepercayaan kalau masjid megah berlantai 10 itu dibangun oleh tentara jin. Pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru daerah, meyakini kalau proses pembangunannya hanya dikerjakan dalam waktu satu malam. Mereka berduyun-duyun ingin melihat langsung bangunan tersebut.

"Isunya dari masyarakat memang begitu dibangun dalam waktu satu malam. Orang-orang yang tinggal di sekitar masjid tidak mengetahui adanya aktivitas alat berat. Bangunan besar berlantai 10, tentu menggunakan crane atau molen pengaduk semen. Tetapi tidak pernah terlihat sampai sekarang," kata Arif Maulana, seorang pekerja asuransi yang berkunjung bersama teman sekantornya dari Kediri karena penasaran, Minggu (11/01).

"Sekarang ada yang belum jadi, tapi tiba-tiba biasanya sudah terselesaikan," katanya menambahkan.

Memang, lazimnya sebuah masjid di kampung pasti proses pembangunannya akan melibatkan masyarakat sekitar. Biasanya mereka mengajak bergotong-royong untuk pengecoran atau pekerjaan lainnya. Tetapi Masjid Tiban sama sekali tidak melibatkan warga sekitar.

"Dulunya saat pembangunan masjid memang tertutup, jadi saat dibuka sudah setengah jadi. Warga juga melihat mobil colt masuk membawa bahan bangunan, tetapi sepertinya tidak banyak. Kalau alat berat memang tidak pernah ada. Tapi tiba-tiba sudah jadi bangunan besar," kata warga Turen, Sulistyo.
2. Ruang masjib punya khasiat
Masjid Tiban atau Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah dirancang sendiri oleh pendirinya, KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam.

Setiap kamar yang akan dibangun atas petunjuk dari salat istikhoroh Romo Kiai Ahmad. Pembangunan selalu menunggu istikhoroh, hingga urusan ukuran kamar, ornamen, warna cat dan hiasan yang digunakan.

"Dasarnya istikhoroh. Ini dibangun di sana, langsung sesuai ukurannya. Kalau kebesaran sedikit saja pasti disuruh bongkar. Setiap kamar memiliki manfaat sendiri-sendiri," kata H Mustafa, salah satu pengurus kepada merdeka.com

"Istkhoroh itu dilakukan agar bisa menyambungkan sama Allah," ujar Mustafa melanjutkan.

Setiap kamar dipercaya memiliki manfaat sendiri-sendiri. Manfaat itu juga menunjukkan keikhlasan orang-orang yang membangun. Semakin ikhlas semakin memberikan manfaat kepada orang lain.

Pembangunan kamar atau ruangan dengan segala desainnya dibiayai oleh para jamaah. Mereka mengerjakannya secara gotong royong sesuai kemampuan. Ada yang hanya membantu tenaga, serta ada pula yang membantu biaya.

"Karena untuk kemaslahatan kami tidak pernah menghitung berapa biaya yang sudah dikeluarkan. Mungkin sudah puluhan atau ratusan miliar enggak tahu. Kita juga masih terus membangun," katanya.

Ada sekitar 325 santri yang menetap bersama keluarganya. Mereka tinggal di lingkungan pesantren, sambil terus mengembangkan usaha pesantren. Sementara jumlah santri yang tidak menetap jumlahnya mencapai ribuan.

Rudy, asal Sepanjang, Sidoarjo, mengaku menjalani riadoh bersama 30 orang temannya. Riadoh adalah istilah yang digunakan oleh santri atau jamaah untuk mengabdikan diri demi mendapatkan ridlo Allah semata. Rudy dan kawan-kawan setiap Sabtu dan Minggu ikut membangun pesantren sebagai bentuk membersihkan hati.

Selama melakukan riadoh, Rudy kenal dengan beberapa jamaah lain yang melakukan hal serupa. Mereka berasal dari beberapa daerah diantaranya Samarinda, Jakarta, Lamongan, Bandung, Banyuwangi dan lain-lain. Rudy juga membantah kalau pesantren dibangun oleh tentara jin.

"Jinnya ya kayak kita-kita ini. Semua ikhlas membantu dengan tenaga, kalau ada rizki bisa juga dengan uang," katanya.
3. Cerita menyebar sampai dianggap lokasi wisata
Cerita Masjid Tiban dibangun oleh tentara jin di Turen, Malang, itu sontak menyebar ke masyarakat sekitar, bahkan keluar daerah Malang. Selanjutnya masyarakat yang penasaran berbondong-bondong ke sana untuk menyaksikan masjid tersebut. 

Para pengunjung akan terkesima dengan tingginya gedung berlantai 10 berikut ornamennya, kendati berada di gang sempit perkampungan. Begitu datang, pengunjung akan disuguhi bangunan dengan dominan warna putih dan biru, serta sebuah gerbang gapura setinggi sekitar 30 meter.

Para pengunjung yang membawa kendaraan roda dua atau empat bisa langsung parkir melalui pos informasi 1, selanjutnya akan diarahkan menuju lahan parkir dan informasi 2. Namun bagi pejalan kaki bisa langsung menuju pos informasi 2 melalui lorong dengan warna kemasan yang megah.

Pengunjung hanya akan ditanya nama atau pemimpin rombongan, jumlah rombongan dan kendaraan yang digunakan. Tidak ada pungutan biaya apapun, bahkan jika membutuhkan pendamping akan disediakan pemandu dengan cuma-cuma. Data yang tertulis di selembar kertas tersebut dibawa pengunjung sebagai bekal menyusuri komplek bangunan pesantren.

Pihak pengelola menolak Masjid Tiban disebut sebagai lokasi wisata. Mereka lebih senang dikenal sebagai Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri'asali Fadlaailir Rahmah. Karena itu di beberapa sudut tertulis permintaan kesadaran para pengunjung agar bersikap selayaknya di pesantren, bukan di tempat wisata.

Pengunjung diminta mengenakan pakaian sopan, berjilbab bagi yang muslim dan menjaga kebersihan.

Sepanjang menyusuri komplek Masjid Tiban, akan menemukan kamar-kamar dengan desain arsitektur yang beragam nuansanya. Secara ilmu arsitektur memang menggabungkan berbagai unsur seperti China, Eropa dan Timur Tengah.

Related Posts

Misteri Masjid Jin yang dipercaya warga
4/ 5
Oleh